Untuk Cek Kondisi Tabung Gas Elpiji, Agen Diminta Sediakan Baskom
Para pemilik agen dan pangkalan elpiji diminta memberikan pelayanan
yang prima. Satu di antara indikatornya adalah menyediakan timbangan dan
baskom air untuk mengecek kondisi tabung gas yang hendak dibeli
konsumen. Sehingga masyarakat bisa benar-benar puas dalam menikmati
manfaat gas elpiji.
Koordinator Hiswan Migas Purbalingga, Hendi mengatakan, fasilitas tersebut disediakan agar masyarakat bisa membuktikan tabung yang akan dibelinya. Sehingga, jika memang ada yang tidak beres bisa langsung diketahui di lokasi.
“Harus ada itu, timbangan dan baskom air, serta alat pemadam ringan (apar, red) dan tidak cuma disediakan saja, tapi juga ditawarkan untuk dicek langsung sebelum dibawa pulang, sehingga ketika ada kekurangan atau tidak beres bisa langsung ditukar,” kata Hendi, Minggu (17/9).
Pada tabung elpiji 3 kg, tabung memiliki berat sekitar 5 kg, sehingga jika tabung dalam kondisi penuh, berat total 8 kg. Jika memang bobotnya kurang dari itu, masyarakat sangat berhak untuk tidak membelinya. Selain itu, pengecekan juga dilakukan untuk mengetahui kondisi tabung bocor atau tidak.
“Bobot tabung kosong itu 5 kg, jika tabung isi penuh berarti beratnya 8 kg, jadi kalau tidak dicek atau karena ilmu kira-kira, karena cepat habis, itu namanya klaim sepihak,” ujarnya.
Hendi menyampaikan, untuk mengetahui kondisi berat, satu-satunya cara memang harus ditimbang. Namun, biasanya masyarakat itu melihat dari indikator jarum regulator. Padahal jarum tersebut merupakan kondisi tekanan di suatu tempat. “Jarum itu bukan isi tabung, tapi tekanan gas. Kalau kondisi dingin jarum pasti akan mengarah ke kiri, begitu sebaliknya jika kondisi hangat,” ujarnya.
Selain itu, terkait penggunaan elpiji 3k g yang dimanfaatkan oleh para peternak ayam, Hiswana tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, bagian itu lebih menjadi kewenangan pemerintah melalui dinas terkait. “Itu lebih menjadi kewenangan dinas, bagaimana untuk pengawasannya,” kata Hendi.
Sementara itu, terkait hal tersebut kabar kelangkaan elpiji subsidi 3 kilogram yang dimungkinkan karena digunakan peternakan ayam, Dinas tidak menampik. Namun dinas hanya bisa melakukan teguran dan peringatan serta jika sudah parah bisa mengusulkan agar izin pengecer dicabut jika terbukti mendominasi ke peternakan ayam.
"Ada informasi seperti itu (digunakan peternakan ayam,red) meski tidak semua melakukan hal itu. Jelas kegiatan ini tidak boleh, karena subsidi. Kami akan segera mengecek lagi dan sanksinya justru kepada penjualnya," kata Kabid Perdagangan Dinperidag Purbalingga, Johan Arifin.
Melihat kondisi ini, pihaknya tidak bisa serta-merta menyalahkan pengusaha ayam, karena ini juga menyangkut kelangsungan peternakan mereka. "Yang dilakukan yaitu melakukan pengawasan agar distribusi dan peruntukan elpiji 3 kilo tidak jor-joran ke luar dari ketentuan. Tujuannya agar pemenuhan kebutuhan elpiji bagi yang berhak tetap tersedia," ujarnya. (aminbellet@gmail.com)
The post from SatelitPost.
Koordinator Hiswan Migas Purbalingga, Hendi mengatakan, fasilitas tersebut disediakan agar masyarakat bisa membuktikan tabung yang akan dibelinya. Sehingga, jika memang ada yang tidak beres bisa langsung diketahui di lokasi.
“Harus ada itu, timbangan dan baskom air, serta alat pemadam ringan (apar, red) dan tidak cuma disediakan saja, tapi juga ditawarkan untuk dicek langsung sebelum dibawa pulang, sehingga ketika ada kekurangan atau tidak beres bisa langsung ditukar,” kata Hendi, Minggu (17/9).
Pada tabung elpiji 3 kg, tabung memiliki berat sekitar 5 kg, sehingga jika tabung dalam kondisi penuh, berat total 8 kg. Jika memang bobotnya kurang dari itu, masyarakat sangat berhak untuk tidak membelinya. Selain itu, pengecekan juga dilakukan untuk mengetahui kondisi tabung bocor atau tidak.
“Bobot tabung kosong itu 5 kg, jika tabung isi penuh berarti beratnya 8 kg, jadi kalau tidak dicek atau karena ilmu kira-kira, karena cepat habis, itu namanya klaim sepihak,” ujarnya.
Hendi menyampaikan, untuk mengetahui kondisi berat, satu-satunya cara memang harus ditimbang. Namun, biasanya masyarakat itu melihat dari indikator jarum regulator. Padahal jarum tersebut merupakan kondisi tekanan di suatu tempat. “Jarum itu bukan isi tabung, tapi tekanan gas. Kalau kondisi dingin jarum pasti akan mengarah ke kiri, begitu sebaliknya jika kondisi hangat,” ujarnya.
Selain itu, terkait penggunaan elpiji 3k g yang dimanfaatkan oleh para peternak ayam, Hiswana tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, bagian itu lebih menjadi kewenangan pemerintah melalui dinas terkait. “Itu lebih menjadi kewenangan dinas, bagaimana untuk pengawasannya,” kata Hendi.
Sementara itu, terkait hal tersebut kabar kelangkaan elpiji subsidi 3 kilogram yang dimungkinkan karena digunakan peternakan ayam, Dinas tidak menampik. Namun dinas hanya bisa melakukan teguran dan peringatan serta jika sudah parah bisa mengusulkan agar izin pengecer dicabut jika terbukti mendominasi ke peternakan ayam.
"Ada informasi seperti itu (digunakan peternakan ayam,red) meski tidak semua melakukan hal itu. Jelas kegiatan ini tidak boleh, karena subsidi. Kami akan segera mengecek lagi dan sanksinya justru kepada penjualnya," kata Kabid Perdagangan Dinperidag Purbalingga, Johan Arifin.
Melihat kondisi ini, pihaknya tidak bisa serta-merta menyalahkan pengusaha ayam, karena ini juga menyangkut kelangsungan peternakan mereka. "Yang dilakukan yaitu melakukan pengawasan agar distribusi dan peruntukan elpiji 3 kilo tidak jor-joran ke luar dari ketentuan. Tujuannya agar pemenuhan kebutuhan elpiji bagi yang berhak tetap tersedia," ujarnya. (aminbellet@gmail.com)
The post from SatelitPost.