Proyek Akses Bandara Terkendala Lahan
– Belum Ada Kesepakatan Pembebasan Lahan
“Harga belum sesuai dengan harga pasaran tanah di sini, dan warga belum sepakat – Kepala Desa Tidu, Sodikun
Pembangunan jalan akses menuju lokasi Bandara Jenderal Besar Soedirman (BJBS), tidak semulus yang direncanakan. Desain awal, Pemkab Purbalingga akan membangun jalan baru untuk menuju bandara, melalui wilayah Desa Tidu. Namun, warga Tidu tidak sepakat dengan harga tukar guling lahan yang ditawarkan pemerintah.
Kepala Desa Tidu, Sodikun menyampaikan, rencana awal memang akan dibuat jalan baru melalui Tidu kurang lebih sepanjang 350 meter dengan lebar 20 meter.
Menurut dia, lahan sepanjang itu merupakan kebun termasuk dua unit rumah warga. Ada tiga kategori harga yang ditawarkan, mulai dari Rp 7 juta per ubin (14,0625 (3,75 × 3,75) meter persegi) untuk lahan yang di pinggir jalan raya.
Kemudian yang sisi selatan Rp 5 juta per ubin, dan lahan persawahan sekitar Rp 2 juta per ubin.
“Harga belum sesuai dengan harga pasaran tanah di sini, dan warga belum sepakat,” kata Sodikun, Kamis (28/9).
Berdasarkan keinginan warga desanya, kata Sodikun, pemerintah minimal membayar Rp 10 juta per ubin untuk lahan yang dekat dengan jalan raya. Sedangkan yang di ujung selatan dihargai sekitar Rp 4 juta per ubin.
“Harga itu sepengetahuan kami tidak disanggupi petugas pelaksana, dalam hal ini adalah DPU PR. Kami (Pemdes,red) kapasitasnya hanya sebagai mediator, dan sejauh ini belum ada perkembangannya,” kata dia.
Sodikun menyadari, adanya akses ke bandara melalui Desa Tidu menjadi peluang untuk kemajuan desa. Namun, Pemdes tidak bisa berbuat lebih jika memang pemilik lahan tidak berkenan menjualnya.
“Di sini sudah seliweran omongan, bahwa kelak Desa Tidu akan menjadi kota ketika sudah ada bandara,” ujarnya.
Pembuatan akses jalan menuju lokasi tempat akan dibangunnya bandara, saat ini sudah mulai dilakukan. Karena masih terjadi penolakan waraga Desa Tidu, maka pembangunan dimulai dari wilayah Desa Wirasaba.
Kepala Bidang Bina Marga dan Jembatan pada DPU PR Purbalingga, Nugroho menyampaikan rencana awal memang akan dibuat jalan mulai dari Jalan raya Tidu. Karena belum ada kesepakatan harga, pembangunan terpaksa dimulai dari tengah yang termasuk wilayah Wirasaba.
Terapkan Rencana Kedua
Nugroho mengatakan, sebetulnya pemerintah sudah menyiapkan dua rencana pembuatan akses jalan. Pilihan pertama melalui Desa Tidu, karena perhitungannya dengan jalan lurus itu lebih mudah dan lebih pendek.
Tetapi, jika tidak bisa terealisasi terpaksa diterapkan rencana kedua, melalui jalan desa di Wirasaba.
“Jalan yang menuju kantor Desa Wirasaba, diteruskan belok ke kanan. Bukan membuat jalan baru, tetapi hanya pelebaran jalan desa yang sudah ada,” ujar Nugroho.
Saat ini kata dia, baru dibangun pembuatan jalan sepanjang 550 meter dari perkebunan sampai mendekati lokasi calon bandara. Jika nantinya direalisasikan menggunakan jalan di depan Kantor Desa Wirasaba, kemungkinan jalur masuk dan keluar bandara akan berbeda.
Proyek pembuatan jalan di wilayah Wirasaba, bakal dilaksanakan selama 120 hari dan perawatan 180 hari kerja. Nilai proyek tersebut mencapai Rp 6,5 miliar lebih, berasal dari bantuan gubernur.
“Targetnya pembangunan bisa selesai Desember nanti. Tapi belum beton,” kata pelaksana kegiatan lapangan, Supeno. (aminbellet@gmail.co.id)
The post Proyek Akses Bandara Terkendala Lahan appeared first on SatelitPost.
“Harga belum sesuai dengan harga pasaran tanah di sini, dan warga belum sepakat – Kepala Desa Tidu, Sodikun
Pembangunan jalan akses menuju lokasi Bandara Jenderal Besar Soedirman (BJBS), tidak semulus yang direncanakan. Desain awal, Pemkab Purbalingga akan membangun jalan baru untuk menuju bandara, melalui wilayah Desa Tidu. Namun, warga Tidu tidak sepakat dengan harga tukar guling lahan yang ditawarkan pemerintah.
Kepala Desa Tidu, Sodikun menyampaikan, rencana awal memang akan dibuat jalan baru melalui Tidu kurang lebih sepanjang 350 meter dengan lebar 20 meter.
Menurut dia, lahan sepanjang itu merupakan kebun termasuk dua unit rumah warga. Ada tiga kategori harga yang ditawarkan, mulai dari Rp 7 juta per ubin (14,0625 (3,75 × 3,75) meter persegi) untuk lahan yang di pinggir jalan raya.
Kemudian yang sisi selatan Rp 5 juta per ubin, dan lahan persawahan sekitar Rp 2 juta per ubin.
“Harga belum sesuai dengan harga pasaran tanah di sini, dan warga belum sepakat,” kata Sodikun, Kamis (28/9).
Berdasarkan keinginan warga desanya, kata Sodikun, pemerintah minimal membayar Rp 10 juta per ubin untuk lahan yang dekat dengan jalan raya. Sedangkan yang di ujung selatan dihargai sekitar Rp 4 juta per ubin.
“Harga itu sepengetahuan kami tidak disanggupi petugas pelaksana, dalam hal ini adalah DPU PR. Kami (Pemdes,red) kapasitasnya hanya sebagai mediator, dan sejauh ini belum ada perkembangannya,” kata dia.
Sodikun menyadari, adanya akses ke bandara melalui Desa Tidu menjadi peluang untuk kemajuan desa. Namun, Pemdes tidak bisa berbuat lebih jika memang pemilik lahan tidak berkenan menjualnya.
“Di sini sudah seliweran omongan, bahwa kelak Desa Tidu akan menjadi kota ketika sudah ada bandara,” ujarnya.
Pembuatan akses jalan menuju lokasi tempat akan dibangunnya bandara, saat ini sudah mulai dilakukan. Karena masih terjadi penolakan waraga Desa Tidu, maka pembangunan dimulai dari wilayah Desa Wirasaba.
Kepala Bidang Bina Marga dan Jembatan pada DPU PR Purbalingga, Nugroho menyampaikan rencana awal memang akan dibuat jalan mulai dari Jalan raya Tidu. Karena belum ada kesepakatan harga, pembangunan terpaksa dimulai dari tengah yang termasuk wilayah Wirasaba.
Terapkan Rencana Kedua
Nugroho mengatakan, sebetulnya pemerintah sudah menyiapkan dua rencana pembuatan akses jalan. Pilihan pertama melalui Desa Tidu, karena perhitungannya dengan jalan lurus itu lebih mudah dan lebih pendek.
Tetapi, jika tidak bisa terealisasi terpaksa diterapkan rencana kedua, melalui jalan desa di Wirasaba.
“Jalan yang menuju kantor Desa Wirasaba, diteruskan belok ke kanan. Bukan membuat jalan baru, tetapi hanya pelebaran jalan desa yang sudah ada,” ujar Nugroho.
Saat ini kata dia, baru dibangun pembuatan jalan sepanjang 550 meter dari perkebunan sampai mendekati lokasi calon bandara. Jika nantinya direalisasikan menggunakan jalan di depan Kantor Desa Wirasaba, kemungkinan jalur masuk dan keluar bandara akan berbeda.
Proyek pembuatan jalan di wilayah Wirasaba, bakal dilaksanakan selama 120 hari dan perawatan 180 hari kerja. Nilai proyek tersebut mencapai Rp 6,5 miliar lebih, berasal dari bantuan gubernur.
“Targetnya pembangunan bisa selesai Desember nanti. Tapi belum beton,” kata pelaksana kegiatan lapangan, Supeno. (aminbellet@gmail.co.id)
The post Proyek Akses Bandara Terkendala Lahan appeared first on SatelitPost.