Lima Seni Tradisional Purbalingga Nyaris Punah
Pemerintah daerah sedang berupaya merevitalisasi kesenian tradisional yang dianggap berada di ambang kepunahan.
Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga, Sri Kuncoro mengatakan, sedikitnya ada lima kesenian tradisional Purbalingga yang dinyatakan hampir punah, yakni Manongan, Ujungan, Angguk, Dames, dan Braen.
“Sejauh ini sebetulnya kami masih terus lakukan pendataan, pendokumentasian, sambil merevitalisasinya,” kata Sri Kuncoro, kemarin (29/9).
Sepanjang tahun ini, sudah empat kesenian yang proses revitalisasi dimulai, yakni kesenian Manongan, Ujungan, Angguk, dan Dames. Untuk memperkenalkannya, dinas beberapa kali menggelar panggung apresiasi seni di beberapa kecamatan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah pernah ditampilkan di tingkat provinsi.
“Kesenian ini sudah jarang sekali dilihat dan didengar. Ada yang terpaksa dilakukan modifikasi supaya lebih menarik dan lebih bisa dinikmati generasi sekarang. Ternyata setelah dipoles, justru bisa tampil di provinsi dan diapresiasi lebih luas lagi,” katanya.
Sri Kuncoro mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat kesenian tradisional Purbalingga ini makin ditinggalkan.
“Regenerasinya tidak berjalan karena generasi muda sekarang lebih suka budaya dan kesenian asing. Tidak sedikit juga yang menilai, kesenian tradisional kurang menarik dan tidak mengikuti zaman,” katanya.
Namun demikian, Sri Kuncoro cukup optimistis terhadap kelestarian kesenian tradisional tersebut dengan banyaknya kelompok-kelompok kesenian daerah.
“Positifnya Purbalingga punya 307 grup kesenian, mulai dari karawitan, kuda kepang, dan wayang kulit yang aktif di sanggar-sanggar,” katanya. (cr)
The post Lima Seni Tradisional Purbalingga Nyaris Punah appeared first on SatelitPost.
Pemerintah daerah sedang berupaya merevitalisasi kesenian tradisional yang dianggap berada di ambang kepunahan.
Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga, Sri Kuncoro mengatakan, sedikitnya ada lima kesenian tradisional Purbalingga yang dinyatakan hampir punah, yakni Manongan, Ujungan, Angguk, Dames, dan Braen.
“Sejauh ini sebetulnya kami masih terus lakukan pendataan, pendokumentasian, sambil merevitalisasinya,” kata Sri Kuncoro, kemarin (29/9).
Sepanjang tahun ini, sudah empat kesenian yang proses revitalisasi dimulai, yakni kesenian Manongan, Ujungan, Angguk, dan Dames. Untuk memperkenalkannya, dinas beberapa kali menggelar panggung apresiasi seni di beberapa kecamatan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah pernah ditampilkan di tingkat provinsi.
“Kesenian ini sudah jarang sekali dilihat dan didengar. Ada yang terpaksa dilakukan modifikasi supaya lebih menarik dan lebih bisa dinikmati generasi sekarang. Ternyata setelah dipoles, justru bisa tampil di provinsi dan diapresiasi lebih luas lagi,” katanya.
Sri Kuncoro mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat kesenian tradisional Purbalingga ini makin ditinggalkan.
“Regenerasinya tidak berjalan karena generasi muda sekarang lebih suka budaya dan kesenian asing. Tidak sedikit juga yang menilai, kesenian tradisional kurang menarik dan tidak mengikuti zaman,” katanya.
Namun demikian, Sri Kuncoro cukup optimistis terhadap kelestarian kesenian tradisional tersebut dengan banyaknya kelompok-kelompok kesenian daerah.
“Positifnya Purbalingga punya 307 grup kesenian, mulai dari karawitan, kuda kepang, dan wayang kulit yang aktif di sanggar-sanggar,” katanya. (cr)
The post Lima Seni Tradisional Purbalingga Nyaris Punah appeared first on SatelitPost.