» » Banyak Bercak Darah di Kamar Mandi - Kabar Purbalingga

Banyak Bercak Darah di Kamar Mandi - Kabar Purbalingga

Penulis By on 13 September 2017 | No comments

Diduga Dibunuh Usai Salat
Sep 12th 2017, by Galih Yoga Priyambodo

PURBALINGGA, SATELITPOST–Warga Dusun Peninis, Ceda Palumbungan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga digegerkan dengan penemuan mayat pasangan suami istri (pasutri) di Sungai Klawing, Senin (11/9) pagi. Pasutri tersebut diduga dibunuh usai salat dan jasadnya dibuang ke sungai. Laki-lakinya menggunakan baju koko, lengkap dengan peci serta sarung dan perempuan menggunakan celana pendek kolor dan mukena. AKP Tarjono Sapto Nugroho SH MM Kasat Reskrim Polres Purbalingga
Mayat pasutri tersebut pertama kali diketahui seorang warga yang hendak buang air besar di Sungai Klawing sekitar pukul 05.30 WIB. Saat ditemukan, kedua mayat dalam posisi mengapung dengan dibungkus seprei.
Kadus Peninis, Ali Mustofa mengatakan, pagi hari ada warga yang melaporkan penemuan mayat kepada dirinya. Dia langsung menuju lokasi untuk memastikan, ternyata sudah banyak warga berkerumun. Selanjutnya dia laporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian setempat. "Pagi-pagi, ada warga yang laporan ke saya, lalu saya cek dan laporkan ke Polsek Bobotsari," kata Ali Senin (11/9).
Warga Bobotsari, Sobar mengatakan, sejak pagi hari dia mengaku sudah mendengar informasi adanya penemuan mayat. Ketika berangkat bekerja, di jalan sekitar jembatan sudah sangat sesak kerumunan warga. "Iya sudah dengar, dan pas berangkat kerja, banyak sekali warga yang sudah di sekitar jembatan. Tidak lihat jelas, tapi itu dibungkus seperti selimut," katanya.
Kapolsek Bobotsari AKP Ridju Isdiyanto menyampaikan, begitu mendengar laporan, langsung menurunkan anggotanya. Karena di lokasi sudah sangat ramai warga yang penasaran ingin menyaksikan, sehingga mayat tidak dibuka dari bungkusannya.
Setelah dievakuasi, kedua mayat tersebut langsung dibawa ke RS Margono Purwokerto untuk dilakukan autopsi. Setelah dilakukan pengembangan, diketahui kalau pasutri tersebut merupakan warga Pekalongan Jawa Tengah. "Hasil pengembangan, didapat informasi bahwa keduanya warga Pekalongan Jawa Tengah. Mayat laki-laki atas nama Husni Arkazih (58) dan perempuan bernama Zakiyah Husni (53). Tapi mereka tinggal di Jakarta. Mereka domisili di Jalan Pengairan no 21 RT 11 RW 6 Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat," kata Kapolres Purbalingga AKBP Agus Nugroho Setiyawan SIK MH, melalui Kasat Reskrim AKP Tarjono Sapto Nugroho SH MM.
Setelah dilakukan autopsi, diketahui terdapat beberapa luka di bagian tubuh korban. Diperkirakan, luka tersebut merupakan luka terkena senjata tajam. "Ada luka di bagian kepala keduanya, bagian muka, dan bagian kepala belakang, liat lukanya luka bacok," ujarnya.
Diperkirakan, mayat tersebut ditemukan setelah sekitar enam jam dari peristiwa pembunuhan. Di sekitar jembatan juga terdapat bercak darah, yang mengindikasikan bahwa pelaku melempar dari atas jembatan. "Saat ini (saat dilakukan otopsi, red) sudah sekitar 11 jam, jadi pas ditemukan sekitar 6 jam dari waktu kejadian, kemungkinan dilempar dari atas jembatan," ujarnya.
Lebih lanjut, Sapto menyampaikan, mayat laki-laki mengenakan pakaian kaus panjang yang didobel dengan baju koko, serta menggunakan sarung. Sedangkan perempuan menggunakan celana pendek, dan mukena. "Laki-lakinya menggunakan baju koko, lengkap dengan peci serta sarung dan perempuan menggunakan celana pendek kolor dan mukena," kata dia.
Selain pakaian yang dikenakan, beberapa barang bukti lainnya di antaranya adalah sandal Hotel Prima, beberapa helai kabel, dan selembar kain putih. "Selain pakaian, ada seprei yang digunakan untuk membungkus, dan kabel yang digunakan untuk mengikat," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengembangan yang dilakukan hari itu, polisi memperkirakan kalau antara korban dan pelaku sudah kenal. Pelaku melakukan eksekusi membunuh korban, ketika korban sedang atau setelah melakukan salat. “Indikasi pelaku dengan korban sudah kenal, dan korban dibunuh setelah salat,” kata Sapto.
EVAKUASI jenazah suami istri yang ditemukan di Sungai Klawing, Dusun
Peninis, Desa Palumbungan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga,
Senin (11/9).
Namun demikian, polisi belum bisa mengungkap secara pasti identitas serta lokasi saat pelaku melakukan eksekusi pembunuhan. Polres Purbalingga masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap pelaku dan motifnya."Ada warga yang melihat mobil bolak-balik lokasi, tapi tidak diketahui jenis dan pelat nomornya. Kami lakukan pencarian rute serta koordinasi dengan Polda Metro Jaya, untuk bisa melacak keluarga korban, baru nanti kita tarik belakang kronologinya," kata Sapto.
Selain motif dan lokasi pembunuhan, polisi juga belum bisa memprediksikan berapa jumlah pelaku. "Belum bisa diprediksi, nanti kita kumpulkan data-data dahulu," kata dia. (aminbellet@gmail.com)

Korban adalah Dosen di Al-Azhar

Husni Arkazih, korban pembunuhan yang jasadnya ditemukan di Sungai Klawing Purbalingga, adalah seorang dosen. Hal itu diungkapkan seorang satpam di sekitar kediaman Husni di Jalan Pengairan Nomor 21 RT 011/06, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Novi Feriawan (37), satpam di sekitar kediaman Husni di Jakarta membeberkan, Husni seorang dosen yang mengajar di Universitas Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana, Husni juga menempati posisi jabatan yang cukup tinggi. “Pak Husni ngajar juga di Al-Azhar. Itu karangan bunga dari kampusnya,” kata Novi seperti diberitakan Tribunnews.
Novi juga menceritakan, Husni merupakan seorang pengusaha batik di daerah Pekalongan. Karena itu, sesekali Husni diharuskan berangkat ke Pekalongan untuk memantau bisnis yang dijalankannya.
Ia juga mendengar kabar bahwa Husni merupakan anak seorang pemuka agama ternama di daerah Jawa Tengah. Almarhum pun aktif di organisasi musala Al Ma’ruf yang terletak di dekat rumahnya. “Sering jadi imam di musala. Pengurus musala juga kok,” katanya. (lil)

Banyak Bercak Darah di Kamar Mandi

Satpam di sekitar kediaman Husni, Novi Feriawan (37) mengatakan selain dihuni oleh 2 korban, rumah tersebut juga ditempati oleh 4 orang anak kost yang semuanya perempuan.
“Pak Husni ini anaknya ada 4 orang, yang pertama Gilang sudah bekeluarga, kedua Suci juga sudah nikah, ketiga Putri, dia tinggal di London sama suaminya, yang keempat Dimas masih kuliah Undip, Semarang. Jadi rumah ini hanya 2 korban sama anak kost 4 orang,” kata Novi seperti diberitakan Tribunnews.
Usai polisi mengonfirmasi kebenaran bahwa Husni dan Zahiya merupakan warga sekitar, mereka langsung mencari pembantu rumah tangga Husni yang mengurusi kondisi kebersihan rumah. “Pembantunya punya kunci teralis, tapi gak megang kunci di dalam. Jadi setelah dia datang pun, kami gak bisa ngecek ke dalam rumah,” kata Novi.
Kemudian polisi melakukan penggeledahan. Pintu yang terletak di dalam setelah teralis yang terkunci dibuka paksa atas seizin Gilang yang datang ke rumah orang tuanya pada jam 13.00 siang tadi. “Sudah dibuka, ada banyak bercak darah di dinding. Yang paling banyak itu di kamar mandi. Kata anaknya brankas sudah kebuka, isinya mungkin emas sama surat-surat,” ujarnya.
Sedangkan berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, Novi mendengar bahwa mobil Toyota Altis milik korban yang dibawa kabur pelaku ditemukan di daerah Purwokerto, Jawa Tengah, dalam kondisi terparkir di pinggir jalan.
Kondisi rumah sudah diberi garis batas polisi. Empat orang anak kost terpaksa mengungsi karena khawatir setelah kejadian tersebut. Polisi pun telah memeriksa dua buah CCTV yang terletak tak jauh dari rumah korban. (lil)

Pihak Keluarga Tak Banyak Komentar

RUMAH Husni Arkazih yang ada di Jakarta Pusat, Senin (11/9).
Hening menyelimuti ruang forensik Rumah Sakit Margono Soekarjo (RSMS), Purwokerto. Keluarga korban pembunuhan yang ditemukan di Purbalingga hanya bisa duduk-duduk sembari menunggu waktu autopsi dilakukan.Sebanyak tiga keluarga datang dari Pekalongan, sementara beberapa keluarga dari Sumpiuh. Mereka datang semenjak pukul 10.00 pagi tadi. Seorang keluarga, kakak kandung korban (wanita) yang enggan disebutkan namanya, enggan berkomentar terkait korban semasa hidup saat ditemui SatelitPost di halaman ruang forensik RSMS. Ia mengaku tidak mengetahui banyak‎ terkait korban.  “Saya tidak tahu,” kata dia.
Sementara seorang kerabat korban lainnya asal Sumpiuh, yang juga enggan disebutkan namanya‎ pun mengungkapkan hal serupa. Ia yang datang dengan istrinya mengaku sudah lama tidak komunikasi dengan korban.
“Sudah lama sekali tidak bertemu, almarhum asli Pekalongan, tapi tinggal di Jakarta sebagai wiraswasta. Kita sudah lama sekali tidak kontak, ini juga kita yang di sini untuk mengurus administrasi dan keperluan autopsi,” katanya.
Sementara kerabat korban lainnya ada sekitar 5 orang yang datang. Menurut dia kerabat lain tersebut merupakan kerabat tidak langsung.
Selesai autopsi menurutnya, jenazah akan langsung dibawa ke Pekalongan untuk disemayamkan di sana.‎ “Rencana akan dibawa ke Pekalongan setelah selesai. Karena keduanya memang asli Pekalongan. Anak-anaknya tidak ke sini, mereka akan langsung ke Pekalongan,” kata dia. (alfiatin)
The post from SatelitPost.
Baca Berita Lainnya